Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Bidayah Al-'Abid wa Kifayah Az-Zahid

Mari Baca ...

Infografis Kekaisaran Mughal: Kebangkitan, Kejayaan, dan Keruntuhan Kekaisaran Mughal Kebangkitan, Kejayaan, dan Keruntuhan Dinasti Terbesar di India 331 Tahun Berkuasa 24.4% Manufaktur Global (1700) Selama lebih dari tiga abad, Kekaisaran Mughal membentuk lanskap politik, budaya, dan arsitektur di anak benua India. Infografis ini menelusuri perjalanan dinasti dari pendiriannya yang inovatif, melalui masa kejayaan yang gemilang, hingga faktor-faktor yang menyebabkan kemundurannya yang tak terhindarkan. Linimasa Penguasa Utama Mughal ...

Daftar Isi Postingan Bidayah Al-'Abid wa Kifayah Az-Zahid

Daftar Isi Postingan Bidayah Al-'Abid wa Kifayah Az-Zahid di Blog ini Bidayah Al-'Abid wa Kifayah Az-Zahid I (Profil Singkat Penulis) Bidayah Al-'Abid wa Kifayah Az-Zahid II (Muqaddimah Penulis - Pasal Istinja' & Istijmar) Bidayah Al-'Abid wa Kifayah Az-Zahid III (Pasal Siwak - Pasal Khuff & Jabirah) Bidayah Al-'Abid wa Kifayah Az-Zahid IV (Pasal Pembatal Wudhu' - Pasal Hal-Hal yang Mewajibkan Mandi) Bidayah Al-'Abid wa Kifayah Az-Zahid V (Pasal Mandi - Pasal Tayamum)

Bidayah Al-'Abid wa Kifayah Az-Zahid V (Pasal Mandi - Pasal Tayamum)

Pasal Syarat mandi ada tujuh : (1) Terputusnya hal yang mewajibkannya, (2) niat, (3) Islam, (4) berakal, (5) mumayyiz, (6) air yang digunakan suci menyucikan lagi mubah, dan (7) menghilangkan hal-hal yang menghalangi sampainya air. Fardhunya adalah meratakan air ke seluruh badan, dalam mulutnya, dan hidungnya, hingga apa yang tampak dari kemaluan perempuan ketika dia duduk untuk buang hajat, prasangka itu cukup dalam hal isbagh, barangsiapa yang berniat mandi sunnah atau wajib akan mencukupi yang lain. Dimakruhkan tidur dalam keadaan junub tanpa wudhu', dan dimakruhkan membangun kamar mandi, menjual atau menyewakannya, membaca Al-Quran di dalamnya, dan memberi salam namun bukan zikir. Boleh memasukinya dengan berpakaian serta aman dari jatuh ke dalam hal yang diharamkan, jika dikhawatirkan jatuh ke dalam hal yang diharamkan makruh, jika diketahui atau wanita memasukinya tanpa uzur, haram. Pasal Tayamum adalah menggunakan tanah tertentu kepada wajah dan kedua tangan ganti daripada b...

Bidayah Al-'Abid wa Kifayah Az-Zahid IV (Pasal Pembatal Wudhu' - Pasal Hal-Hal yang Mewajibkan Mandi)

Pasal Pembatal wudhu' ada delapan : (1) Sesuatu yang keluar dari dua jalan secara mutlak, (2) keluarnya air seni atau kotoran dari bagian tubuh yang lain, baik banyak ataupun sedikit, atau selain keduanya seperti muntah atau darah jika sangat banyak - relatif pada pandangan setiap orang, (3) hilangnya akal kecuali tertidur ringan pada orang yang berdiri atau duduk, (4) memandikan mayat atau sebagiannya, (5) makan daging unta walaupun mentah - dalam rangka ibadah. Tidak batal disebabkan bagian-bagian lainnya, meminum susunya, dan kaldu dagingnya, (6) menyentuh kemaluan manusia yang bersambung atau duburnya, walaupun mayat dengan tangannya, tidak termasuk menyentuh testisnya, tidak pula tempat kemaluan yang terpisah, (7) menyentuh lelaki atau perempuan lain dengan syahwat tanpa penghalang, walaupun dengan anggota badan tambahan terhadap anggota badan tambahan lainnya, (8) dan murtad. Setiap hal yang mewajibkan mandi juga mewajibkan wudhu' selain kematian, karena dia mewajibkan ma...

Bidayah Al-'Abid wa Kifayah Az-Zahid III (Pasal Siwak - Pasal Khuff & Jabirah)

Pasal Bersiwak disunnahkan secara mutlak, kecuali bagi orang yang berpuasa (1) setelah tergelincirnya matahari dimakruhkan. (2) Dibolehkan sebelum tergelincirnya matahari dengan kayu yang basah, (3) walaupun lebih disukai yang kering. Siapa saja yang bersiwak dengan sesuatu selain kayu, maka dia tak sesuai dengan Sunnah. Bersiwak ditekankan (1) saat akan shalat, (2) baca Al-Quran, (3) ketika wudhu', (4) bangun dari tidur, (5) masuk mesjid, (6) ketika bau mulut berubah, dan semisalnya. Disunnahkan (1) dalam bersiwak mulai dari yang kanan, bersuci, dan semua urusannya, (2) memakai minyak, (3) memakai celak, (4) melihat ke cermin, (5) memakai wewangian, (6) mencukur rambut kemaluan, (7) memangkas kumis, (8) memotong kuku, (9) dan mencabut rambut ketiak. Wajib khitan bagi laki-laki dan perempuan ketika sudah baligh, dan sewaktu masih kecil lebih utama. Pasal Wudhu' adalah menggunakan air yang suci menyucikan pada anggota tubuh yang empat dengan sifat atau cara tertentu. Menyebut na...

Bidayah Al-'Abid wa Kifayah Az-Zahid II (Muqaddimah Penulis - Pasal Istinja' & Istijmar)

Muqaddimah Penulis Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah yang telah memahamkan agama-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan memberi taufik dalam ibadah dan kebenaran kepada mereka yang taat kepada-Nya. Serta shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Sayyidina Muhammad sang pemandu kepada jalan kebenaran, juga kepada keluarganya, para sahabatnya yang terkemuka dan patut jadi teladan, dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan ihsan hingga Hari Kembali. Amma ba'du, aku telah beristikharah kepada Allah dalam menulis ringkasan yang bermanfaat, terbatas pada Bab Ibadah, berdasarkan Mazhab Imam Ahmad bin Hanbal, untuk memotivasi murid dan memberikan jalan bagi yang mencari manfaat. Aku menamainya Bidayah Al-'Abid wa Kifayah Az-Zahid. Aku memohon kepada Allah agar Dia menerimanya dan menjadikannya bermanfaat bagi setiap orang yang menyibukkan diri dengannya, baik bagi yang bertanya ataupun bagi yang ditanya. Sesungguhnya D...

Bidayah Al-'Abid wa Kifayah Az-Zahid I (Profil Singkat Penulis)

Profil Imam Al-Ba'liy 'Abdurrahman bin 'Abdillah bin Ahmad Al-Halabiy Ad-Dimasyqiy Al-Hanbaliy lahir pada 21 Jumadil Ula tahun 1110 H (sekitar 24 November 1698 M) di Ba'labak . Beliau tumbuh besar di rumah yang penuh dengan ilmu. Ayahnya, kakek, dan buyutnya adalah para ulama yang dihormati, begitu pula saudaranya yang lebih tua Syaikh Muhammad Al-Hanbaliy dan Syaikh Ahmad, penulis Ar-Raudh An-Nadiy Syarh Kafiy Al-Mubtadiy. Setelah beliau mencapai usia ketajaman berpikir, beliau mulai belajar Al-Quran dengan ayah beliau, menyelesaikannya di usia 10 tahun. Kemudian beliau mulai menuntut ilmu kepada guru pertamanya, yakni Syaikh 'Awwad Al-Hanbaliy An-Nabulsiy yang mengajarkannya Al-Ajurrumiyyah dalam bidang tata bahasa Bahasa Arab dan Akhshar Al-Mukhtasharat. Beliau belajar dengan Syaikh 'Awwad selama beberapa tahun, dan secara bertahap berkembang dan matang dalam ilmu. Setelah ayah beliau wafat, beliau tetap di bawah bimbingan saudaranya yang sekaligus juga ulama...